Rewind-FastForward
“Sebetulnya, sebuah masa lalu itu perlu terkuak atau tidak?”
Pertanyaan itu berkali-kali berlarian di dalam kepala saya. Membuat rapuh terkadang, membuat jengah dan kesal selebihnya.
Saya paham, setiap manusia pasti memiliki simpanan memori yang bernama ‘kenangan masa lalu’. Namun ketika manusia tersebut siap untuk menembus masa depannya, perlukah memori itu dibagi pada orang yang akan sama-sama berlari menembus masa depannya?
Sejujurnya, pertanyaan itu sangat menggangu saya. Ada orang yang berpendapat bahwa memori masa lalu itu ada baiknya di ceritakan ‘dalam garis besarnya’ saja, tidak perlu mendetail. Tapi ketika ada hal-hal mendetail yang mendadak muncul kepermukaan atas sebab ketidaktahuan ; bencana.
Ada yang bilang, ceritakan saja semuanya! Toh sudah berlalu. Tapi ketika yang sudah berlalu itu di ‘tarik’ kembali dalam visual cerita kemudian tak sengaja bertemu mata dan menciptakan aliran energi yg ‘diperbaharui’ ; bencana.
Atau mungkin diendapkan saja, hingga terpisah sendirinya dengan masa kini. Tapi ketika tidak sengaja teraduk dan menciptakan air yg keruh ; bencana.
Dan hingga kini, momok masa lalu itu masih menjadi bayang bayang yang berjalan lambat dibelakang bayang-bayang kekinian. Tapi, dia tetap menguntit. Mungkin bersiap jikalau kehilangan arah, kita akan menengok kebelakang, memulai lagi dari mereka.
Entahlah.
Saya lebih tidak suka dengan masa lalu yang terus memperbaharui dirinya menjadi masa kini dan masa nanti. Terlalu obsesif.
Jakarta,
Dengan udara malam yg mulai seperti siang.
Arinda Casni



1
