Rejuvalompa

Hear the words read the whisper

Rewind-FastForward

“Sebetulnya, sebuah masa lalu itu perlu terkuak atau tidak?”

Pertanyaan itu berkali-kali berlarian di dalam kepala saya. Membuat rapuh terkadang, membuat jengah dan kesal selebihnya.

Saya paham, setiap manusia pasti memiliki simpanan memori yang bernama ‘kenangan masa lalu’. Namun ketika manusia tersebut siap untuk menembus masa depannya, perlukah memori itu dibagi pada orang yang akan sama-sama berlari menembus masa depannya?

Sejujurnya, pertanyaan itu sangat menggangu saya. Ada orang yang berpendapat bahwa memori masa lalu itu ada baiknya di ceritakan ‘dalam garis besarnya’ saja, tidak perlu mendetail. Tapi ketika ada hal-hal mendetail yang mendadak muncul kepermukaan atas sebab ketidaktahuan ; bencana.

Ada yang bilang, ceritakan saja semuanya! Toh sudah berlalu. Tapi ketika yang sudah berlalu itu di ‘tarik’ kembali dalam visual cerita kemudian tak sengaja bertemu mata dan menciptakan aliran energi yg ‘diperbaharui’ ; bencana.

Atau mungkin diendapkan saja, hingga terpisah sendirinya dengan masa kini. Tapi ketika tidak sengaja teraduk dan menciptakan air yg keruh ; bencana.

Dan hingga kini, momok masa lalu itu masih menjadi bayang bayang yang berjalan lambat dibelakang bayang-bayang kekinian. Tapi, dia tetap menguntit. Mungkin bersiap jikalau kehilangan arah, kita akan menengok kebelakang, memulai lagi dari mereka.

Entahlah.
Saya lebih tidak suka dengan masa lalu yang terus memperbaharui dirinya menjadi masa kini dan masa nanti. Terlalu obsesif.


Jakarta,
Dengan udara malam yg mulai seperti siang.


Arinda Casni

Beruntung

Banyak orang yang bilang saya beruntung mendapatkan seorang lelaki yang menurut mata perempuan yang tengah jatuh cinta ; sempurna.

Tapi dilain sisi, banyak pula orang yang menyanjung saya dengan mengatakan dia beruntung mendapatkan saya yang menurut mata mereka ; sempurna.

Tapi saya lebih nyaman jika dibilang kami beruntung dipertemukan.
Oleh waktu,
Oleh bulan ramadhan,
Oleh waktu sahur,
Oleh kekosongan,
Oleh rasa lelah,
Oleh rasa jengah,
Oleh Tuhan.

Saya kira, saya dan dia beruntung dipertemukan di waktu yang tepat. Saya dengan kelelahan yang amat sangat, butuh sesuatu yang bisa ikut menopang rasa jengah dan lelah yg lama melingkar dibahu.
Dia dengan kejenuhan dan rasa kecewa yang cukup dalam, berlarian mencari peraduan yang tak kunjung datang menghampiri.
Saya rasa, kita beruntung dipertemukan,
Sehingga terciptalah sketsa-sketsa baru masa depan yang siap di lukiskan dengan cat perjalanan hidup.

Jakarta,
Sesaat setelah kamu mengantar aku masuk kedalam mobil menuju rumah.


Arinda Casni

(Source: ashlee-studs, via imgfave)

a little thing, a big impact.

a little thing, a big impact.

(Source: h0pelssr0mantic, via imgfave)

all checked!
thankyou #hurufkedelapan

all checked!

thankyou #hurufkedelapan

(Source: karleighhhh, via imgfave)

sweet and healthy. isn’t it?

sweet and healthy. isn’t it?

(Source: carringtonlynn, via imgfave)

hanging bed. speechless.

hanging bed. speechless.

(Source: imgfave)

howdoesitfuckingfeel:

always.

just always remember guys…. :)

howdoesitfuckingfeel:

always.

just always remember guys…. :)

Menyerah

Ketika bukan lagi waktu yang menjadi ujung dari rasa ini,
Ketika bukan lagi perihal hamparan hari yang menguatkan perjalanan ini,
Ketika bukan lagi malam yang menjadi penentu terbitnya pagi,
Ketika bukan lagi serpihan detik yang pancangkan surga diatas permadani hati,
Ketika bukan lagi lolongan ayam yang berseteru di udara yang berpasir,
Ketika bukan lagi derajat suhu yang melelehkan sebongkah kepribadian berkelambu sihir.

Ketika aku,
Tak sanggup membaca kenangan dibalik badan tak bersayap,
Tak sanggup menjadikan sosok mu sebagai proyeksi memori.


Ketika aku,
Hanya selalu ingin,
Menyaksikan setiap bingkai kata yang kau untai,
Melelehkan duka yang tak pernah bisa kau redam,
Menjaga lentera senyum yang mudah melayang,
Mengabdi pada satu mata,
Yang menggambar garis dan titik yang kemudian bersetubuh
Diantara peluh, peluk, dan keluh.

Jakarta,
Sesaat setelah kamu menitipkan separuh roh yang memakai minyak wangi milikmu untuk tidur bersebelahan dengan miliku.


Arinda Casni

Terbaik

Baca timeline dari orang-orang yang gw follow hari ini, banyak yg ngetweet, nge-retweet atau sepaham dengan tweet yang isinya tentang “Seseorang Yang Terbaik”.
Ada yang bilang : “Nyari yang terbaik? Emang lu siap jadi yang terbaik buat orang lain?”
Atau yang lebih galau : “Nyari yang terbaik? Emang lu siap ditinggalin sama orang itu karena dia nyari yang terbaik?”

Buat gw sih,
“Everyone deserve to choose and get their ‘Best’”
Maksudnya adalah, sebagai manusia, setiap individu memiliki hak untuk mencari, menelaah, menemukan, memilih, merasakan, menjalani, memutuskan siapa yang akan menjadi seseorang yang terbaik buat diri mereka. Karena, tolak ukur ‘terbaik’ sendiri kan, datangnya dari individu-individu masing-masing.

Belum tentu si A itu yang terbaik menurut B, karena si C ngerasa si A kurang ini itu.

Gw sih lebih kepada “Jangan selalu mencari yang lebih baik dari yang baik, karena banyak yang lebih baik dari yang baik. Tapi temukanlah satu yang terbaik -untukmu-“.

So,
Dengan lu berusaha mencari seseorang yang terbaik untuk hidup lu, (mestinya) diiringi dengan per-introspeksian diri kita untuk menjadi (minimal) yang baik bagi mereka. Terlepas dari hak mereka menilai apakah kita yang terbaik untuk mereka atau bukan, let’s their do the rest!

Keep simple,
Keep thinking simply,
Respect,
And don’t forget Rock n Roll - Live Ur Life!


Jakarta,
Dengan mata tinggal 5 watt.


Arinda Casni

Pukul satu lebih dua pagi.

Kemarin, pukul dua lebih lima belas pagi,
Aku hampir terpejam di lenganmu yang melingkar.
Hingga saat kau bertanya tentang kita.
Mataku mendadak kosong.
Seperti ada yang mencuri binarnya.

Kemarin, pukul dua lebih dua puluh dua pagi,
Aku masih kosong menatap matamu yg setengah menahan kantuk.
Jangan salah sangka, aku tidak kecewa.
Tapi roh ku lompat kegirangan terlalu tinggi,
Dan dia memutuskan untuk menari diatas langit-langit kamarmu.
Aku dan tubuh yang kau peluk itu, ditinggalnya.

Kemarin, hampir pukul tiga pagi,
Kau masih menjaga nada bicaramu membicarakan kita.
Tidak terdengar menjanjikan,
Tapi tidak juga melecehkan.
Pas.
Pas untukku bercermin
Pas untukku berkaca
Pas untukku mengambil harapan lain dibalik sorot matamu.

Hari ini, pukul dua belas lewat sepuluh pagi,
Kamu kembali bicara tentang kita.
Kali ini terdengar jauh menyejukan.
Dan terasa bahwa kamu,
Memang ada.


Jakarta,
Dengan mata hampir terpejam dan hati yang merupa rindu.

Arinda Casni

Pemujaan

Aku sering bergumam.
Menjorokkan kata-kata dalam kerongkongan yang basah dan berlendir.

Aku sering menerawang.
Mencari celah agar pikiran melayang tak hilang di serap bohlam 5 watt.

Aku sering bermimpi.
Menciptakan rangkaian semu kehidupan yang seringkali terwujud dalam bentuk lain ; reinkarnasi.

Dan kamu,
Kini kamu.
Yang menjadi sosok yang sekelibat berlari diujung mata
Yang seringkali menjadi pembuka sebuah kata
Yang begitu mudah menemui makna

Ingin kamu,
Selamanya kamu.

Boleh?


Jakarta,
Pukul empat lebih lima. Sudah subuh.

Arinda Casni

Hati-hati. Makna itu sempit ; Intrepretasi itu luas.

(Source: olivia-jordan, via imgfave)

(Source: zuicidestephaniee, via imgfave)